05 Aug 2025
Granuloma gigi adalah kondisi peradangan kronik yang terjadi pada ujung akar gigi, biasanya disebabkan oleh infeksi jangka panjang pada pulpa (jaringan dalam gigi).
Peradangan ini membentuk jaringan granulasi yakni kumpulan sel-sel imun dan pembuluh darah kecil, sebagai respon tubuh terhadap iritasi berkelanjutan.
Granuloma gigi termasuk jenis lesi non-neoplastik dan tidak bersifat kanker, namun tetap perlu ditangani karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut.
Granuloma ini kerap ditemukan melalui pemeriksaan radiografi sebagai area radiolusen (gelap) di sekitar ujung akar, meskipun seringkali tidak menimbulkan gejala klinis yang nyata.
Granuloma Periapikal
Jenis granuloma yang paling umum di bidang kedokteran gigi. Terbentuk akibat infeksi kronis pada saluran akar yang tidak ditangani, biasanya muncul setelah kematian pulpa. Granuloma periapikal berkembang secara perlahan dan dapat menetap tanpa gejala bertahun-tahun. Biasanya terdeteksi lewat pemeriksaan rontgen.
Granuloma Piogenik
Granuloma piogenik merupakan lesi reaktif berbentuk benjolan merah keunguan yang mudah berdarah. Umumnya timbul di jaringan lunak rongga mulut seperti gusi, lidah, dan bibir. Faktor pemicu termasuk trauma ringan, iritasi, dan perubahan hormon (misalnya saat kehamilan).
Granuloma Sel Raksasa Perifer
Lesi jinak yang biasanya muncul di gusi, mengandung sel raksasa multinukleus dan berkaitan erat dengan iritasi lokal seperti karang gigi atau gigi tiruan. Meskipun tidak bersifat ganas, granuloma ini dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar jika tidak diangkat.
Granuloma Traumatik
Jenis granuloma yang muncul akibat trauma atau iritasi jaringan lunak rongga mulut yang berulang. Sering ditemukan pada lidah, palatum, atau mukosa pipi. Berisi sel-sel inflamasi termasuk eosinofil dan dapat menyerupai lesi neoplastik secara klinis.
Granuloma gigi terbentuk sebagai reaksi tubuh terhadap infeksi atau iritasi jangka panjang pada jaringan periapikal. Beberapa faktor penyebab umum antara lain:
Infeksi saluran akar yang tidak diobati
Pulpa gigi yang mengalami nekrosis (kematian jaringan)
Perawatan saluran akar yang gagal atau tidak sempurna
Sisa jaringan mati atau bahan iritan di dalam saluran akar
Trauma gigi akibat kecelakaan atau tekanan berulang
Peradangan akibat karies dalam yang menembus pulpa
Meskipun granuloma gigi sering tidak menimbulkan gejala (asimptomatik), ada beberapa tanda yang bisa muncul, terutama saat granuloma mulai membesar atau terinfeksi ulang:
Rasa tidak nyaman atau nyeri ringan di sekitar gigi
Pembengkakan lokal di gusi sekitar akar gigi
Gigi terasa lebih tinggi saat digigit
Gigi tampak goyah atau berubah warna
Lesi radiolusen berbatas jelas pada rontgen periapikal
Kadang disertai abses kecil atau fistula jika terjadi infeksi sekunder
Untuk memastikan keberadaan granuloma gigi, dokter gigi akan melakukan serangkaian pemeriksaan diagnostik, antara lain:
Pemeriksaan klinis: palpasi area gusi, pengecekan mobilitas dan vitalitas gigi.
Radiografi periapikal: menunjukkan area radiolusen di ujung akar gigi.
Tes vitalitas pulpa: menentukan apakah pulpa masih hidup atau sudah nekrotik.
Biopsi jaringan: jika lesi mencurigakan atau tidak sembuh setelah perawatan endodontik, biopsi dilakukan untuk mengesampingkan tumor atau kis.
Perawatan Saluran Akar (Root Canal Treatment)
Merupakan terapi utama granuloma periapikal. Dokter akan membersihkan saluran akar, menghilangkan jaringan nekrotik dan bakteri, lalu mengisi saluran akar untuk mencegah infeksi ulang.
Tindakan pembedahan untuk mengangkat ujung akar gigi beserta jaringan granuloma, dilakukan jika granuloma tetap bertahan meskipun saluran akar sudah dirawat.
Ekstraksi Gigi
Jika kondisi gigi tidak memungkinkan untuk diselamatkan, maka pencabutan gigi menjadi pilihan terakhir agar infeksi tidak menyebar.
Granuloma gigi yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi kondisi lebih serius:
Pembentukan kista radikular
Perkembangan abses periapikal akut
Kehancuran jaringan tulang rahang
Osteomielitis (infeksi tulang)
Infeksi sistemik jika bakteri menyebar melalui aliran darah
Langkah pencegahan sangat penting agar granuloma gigi tidak terjadi:
Melakukan pemeriksaan gigi rutin setiap 6 bulan
Menangani gigi berlubang sejak dini sebelum mencapai pulpa
Menjaga kebersihan mulut dengan menyikat gigi dua kali sehari dan menggunakan benang gigi
Segera berkonsultasi ke dokter gigi jika terjadi trauma atau rasa sakit pada gigi
Menghindari penggunaan gigi tiruan atau behel yang menyebabkan iritasi kronis
Kondisi | Penyebab | Isi Lesi | Gejala | Penanganan |
Granuloma | Infeksi kronis pulpa | Jaringan granulasi | Ringan atau tanpa gejala | RCT atau apikoektomi |
Kista Radikular | Perkembangan lanjutan granuloma | Rongga cairan berisi epitel | Tidak nyeri, membesar lambat | Eksisi kista |
Abses | Infeksi akut | Nanah | Nyeri tajam, bengkak | Drainase & antibiotik |
Aoun G. (2022). Pyogenic Granuloma of the Oral Cavity: Clinical and Histopathological Features.
Lomeli Martinez et al. (2023). Oral Pyogenic Granuloma: A Narrative Review.
Risya et al. (2020). The NFκB Expression on Apical Dental Granuloma: An Immunohistochemical Study.
Román‑Quesada N. et al. (2021). Prevalence of Peripheral Giant Cell Granuloma and Pyogenic Granuloma Related to Dental Implants.
Setti G. et al. (2025). Diagnostic Challenges of Traumatic Ulcerative Granuloma with Stromal Eosinophilia in the Palate.
Barut O. et al. (2024). Peripheral Giant Cell Granuloma and Neurofibroma Occurring in the Mandible of a Patient with Neurofibromatosis Type 1.
Springer (2024). Causes of Oral Granulomatous Disorders: An Update with Emphasis on Systemic Associations and Cosmetic Fillers.